Di rumahku terjadi pembantaian. Belasan cicak terkapar tak berdaya akibat bantingan keras ke tembok. Maksimal tiga kali bantingan, cicak-cicak itu pun mati mengenaskan. Yang melakukannya bukan siapa-siapa, tapi saya sendiri. Sadis? Ya, jangankan Anda, saya sendiri juga berpendapat, apa yang saya lakukan itu benar-benar tak berperikecicakan.
Itulah salah satu kenangan kelam masa kecil. Membantai cicak, dan saya melakukannya dengan senang hati pula karena menganggap apa yang saya lakukan itu diganjar pahala oleh Allah SWT. “Membunuh cicak itu berpahala,” kata guru ngaji saya. Mengapa? Karena cicak hampir membuat Rasulullah Muhammad SAW terbunuh, pada saat beliau bersama sahabatnya Abu Bakar as-Shiddiq, bersembunyi di Gua Tsur.
Diriwayatkan bahwa pada saat Rasulullah SAW diancam dibunuh oleh kaum kafir Quraisy, untuk menghindarinya, beliau berhijrah ke Madinah (kala itu masih bernama Yatsrib). Sebelum hijrah, beliau menginap di rumah pamannya, Abu Talib. Rumah Abu Talib pun dikepung, tapi karena kekuasaan Allah SWT, beliau bisa keluar dari rumah itu dengan selamat. Untuk mengelabuhi para pengepung, saudara sepupu beliau, Ali bin Abi Talib menempati tempat tidur yang biasa dipakai Rasulullah SAW.
Dari rumah Abu Talib, Rasulullah SAW menuju ke suatu tempat yang sudah dijanjikan untuk bertemu bersama Abu Bakar. Berdua Abu Bakar, Rasulullah SAW menuju Madinah tapi melalui arah yang berlawanan yaitu ke Jabal Tsur yang letaknya berada di selatan Makkah (arah negara Yaman), sedangkan Madinah berada di Utara Makkah. Inilah taktik Rasulullah SAW untuk menghindari kejaran para pengancam.
Di Jabal Tsur yang letaknya kurang lebih enam kilometer di sebelah selatan Masjidil Haram, terdapat Gua Tsur, tingginya sekitar 1,25 meter dengan panjang maupun lebarnya kurang lebih 3,5 meter x 3,5 meter. Di Gua Tsur inilah Rasulullah SAW bersembunyi dari kaum kafir Quraisy yang memburunya, ditemani Abu Bakar.
Pada saat di Gua Tsur itulah, Allah SWT memberi pertolongan dengan mengutus para malaikat agar membuat sarang laba-laba yang menutupi mulut gua dan meletakan sarang burung merpati yang sedang mengerami telurnya. Dengan demikian, orang-orang yang memburu Rasulullah SAW sangat yakin bahwa gua itu kosong. Andaikan ada orang yang memasuki gua, tentu sarang laba-laba itu akan rusak, dan burung pun pasti tidak akan tenang bersarang dan bertelur di mulut gua. Setelah tiga hari bersembunyi, Rasulullah SAW bersama Abu Bakar keluar dari Gua Tsur dengan selamat.
Apa hubungannya dengan cicak? Menurut guru ngaji saya, dengan suaranya yang nyaring, cicak berusaha memberi tahu orang-orang Quraisy bahwa Rasulullah SAW berada di dalam gua Tsur.
Oleh karena itu, membunuh cicak hukumnya sunnah, berpahala jika dilakukan. Dan jumlah pahala yang diterima disesuaiakan dengan cara membunuhnya. Bila cicak mati dalam sekali banting, pahalanya 100, bila dua kali banting pahalanya berkurang menjadi separuhnya, dan jika sampai tiga kali banting, pahalanya akan semakian berkurang. Guru ngaji saya menekankan, kalau bisa, jangan sampai melebihi tiga kali bantingan.
Saya merasa ada yang kurang pas dengan ajaran guru ngaji saya itu, apalagi setelah banyak membaca perihal Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yang menjunjung tinggi keluhuran beretika, berbudi pekerti, termasuk pada binatang dan tumbuh-tumbuhan.
Tapi, pada saat bertanya pada sahabat maya saya, Pak Google dan Pak Yahoo, memang ada sejumlah dalil (hadits Rasulullah SAW) yang menegaskan bahwa membunuh cicak itu sunnah hukumnya. Kalau Anda tidak percaya, coba tanya lagi Pak Google atau Pak Yahoo, siapa tahu saya salah baca.
Sssstttttt, awas ya, jangan ceritakan/sebarkan tulisan ini pada tuan-tuan anggota DPR dan aparat kepolisian. Ini benar-benar permohonan dari lubuh hati saya yang paling dalam. Jikalau dengan permohonan ini ternyata masih ada anggota DPR atau polisi yang membaca tulisan ini, dan semakin bersemangat untuk membunuh cicak, mohon maaf, sungguh itu di luar tanggungjawab saya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment